Bagi kamu yang baru terjun ke dunia web development, langkah pertama yang paling krusial—dan seringkali membingungkan—adalah menyiapkan lingkungan kerja di laptop sendiri (local environment).
Table of Contents
Dulu, pilihan de facto bagi semua mahasiswa IT atau pemula adalah XAMPP. Namun, belakangan ini, industri teknologi semakin gencar menyarankan penggunaan Docker. Pertanyaannya: Apakah kamu sebagai pemula harus langsung loncat ke Docker yang terlihat rumit, atau tetap setia dengan XAMPP yang legendaris?
Di artikel ini, kita akan bedah tuntas perbandingan XAMPP vs Docker agar kamu tidak salah pilih alat tempur untuk belajar coding!
Apa Itu XAMPP? (Si Klasik yang Mudah)
XAMPP adalah singkatan dari X (Cross-platform), Apache, MariaDB/MySQL, PHP, dan Perl. Sederhananya, XAMPP adalah paket “All-in-One”. Sekali install, kamu langsung punya web server, database, dan bahasa pemrograman di komputermu.
Kelebihan XAMPP:
- Mudah Diinstal: Tinggal klik Next, Next, Finish.
- Ringan: Cocok untuk laptop dengan spesifikasi terbatas.
- Tanpa Internet: Bisa dijalankan sepenuhnya offline tanpa perlu pull image yang besar.
Kekurangan XAMPP:
- Isolasi Buruk: Jika kamu butuh PHP versi 7 untuk Proyek A dan PHP versi 8 untuk Proyek B, XAMPP akan kesulitan menanganinya (harus install ulang atau gonta-ganti config yang ribet).
- Masalah “It Works on My Machine”: Sering terjadi kode berjalan lancar di XAMPP laptopmu, tapi error saat di-upload ke server hosting karena perbedaan konfigurasi.
Apa Itu Docker? (Si Modern Standar Industri)
Berbeda dengan XAMPP yang menginstal software langsung ke sistem operasi utama (Windows/Mac), Docker menggunakan konsep Container. Bayangkan container ini sebagai kotak-kotak terpisah. Kotak A berisi PHP 7, Kotak B berisi PHP 8. Keduanya tidak akan saling ganggu untuk development di local environment.
Kelebihan Docker:
- Isolasi Sempurna: Kamu bisa menjalankan berbagai versi software secara bersamaan tanpa bentrok.
- Konsistensi: Lingkungan di laptopmu bisa dibuat 100% sama dengan server produksi. Tidak ada lagi drama “kok di server error ya?”.
- Fleksibel: Tidak cuma untuk PHP. Docker bisa dipakai untuk Python, Node.js, Ruby, Go, dll dengan mudah.
Kekurangan Docker:
- Kurva Belajar Curam: Bagi pemula, memahami konsep Image, Container, Volume, dan Docker Compose bisa membuat pusing di awal.
- Berat di Resource: Docker (terutama di Windows) membutuhkan resource RAM dan CPU yang lebih besar dibanding XAMPP karena berjalan di atas virtualisasi (WSL2).
| Fitur | XAMPP | Docker |
| Instalasi | Sangat Mudah | Sedang – Rumit |
| Penggunaan Resource | Ringan | Berat (Butuh RAM besar) |
| Manajemen Versi | Sulit (Satu versi global) | Sangat Mudah (Bisa multi-versi) |
| Kemiripan dgn Server Asli | Rendah | Tinggi |
| Target Pengguna | Pemula Absolut | Menengah – Profesional |
Kapan Harus Menggunakan XAMPP?
Jangan merasa minder jika kamu masih pakai XAMPP. Alat ini masih sangat relevan jika:
- Kamu baru pertama kali belajar HTML, CSS, dan PHP dasar.
- Laptop kamu memiliki RAM 4GB atau kurang.
- Kamu hanya ingin membuat script sederhana atau mengerjakan tugas kuliah yang tidak kompleks.
- Kamu tidak ingin pusing dengan konfigurasi server dan ingin langsung coding.
Kapan Harus Pindah ke Docker?
Kamu wajib mulai melirik Docker jika:
- Kamu serius ingin berkarir sebagai Software Engineer (Docker adalah skill wajib di CV saat ini).
- Kamu mengerjakan proyek tim (agar settingan di laptop semua anggota tim seragam).
- Kamu butuh teknologi yang lebih kompleks (misal: butuh Redis, PostgreSQL, dan Node.js berjalan bersamaan).
- Laptop kamu mumpuni (RAM 8GB ke atas).
Kesimpulan
Jadi, mana yang lebih baik xampp vs docker? Jawabannya tergantung di tahap mana kamu berada.
Jika kamu baru hari pertama belajar coding, gunakan XAMPP. Jangan persulit dirimu dengan konfigurasi Docker saat kamu masih berjuang memahami variabel dan fungsi.
Namun, setelah kamu nyaman dengan dasar-dasar pemrograman, segeralah belajar Docker. Ini adalah investasi waktu yang akan sangat berguna bagi karir masa depanmu.
Siap untuk belajar? Tulis di kolom komentar, tim mana yang kamu pilih: #TimXAMPP atau #TimDocker?